Keju dari ASI Sungguh Melecehkan si ‘Air Emas’

Pembuatan keju dari Air Susu Ibu (ASI) sudah dilakukan sejak lama oleh orang di negara-negara barat. Namun pakar ASI menilai memperuntukkan ASI hanya untuk makanan seperti keju sangat melecehkan fungsi ASI yang mulia untuk bayi.

Seperti dilansir dari FoxNews, Jumat (12/3/2010), sebuah restoran di kota New York menghidangkan keju yang terbuat dari ASI. Si pembuatnya, Daniel Angerer mengaku membikin keju itu karena ibu dari anaknya punya ASI yang berlimpah sehingga sayang kalau tidak dimanfaatkan.

Pembeli mengatakan keju dari ASI ini rasanya tidak berbeda dengan keju cheddar lainnya. Tapi sebagian orang justru mengecam penjualan keju ASI sebagai sesuatu yang memuakkan.

Dr. Manny Alvarez yang diwawancari FoxNews mengaku ASI adalah salah satu makanan alami terbaik dari Tuhan. Menurutnya belum ada bukti ASI yang dibuat menjadi makanan olahan memiliki nutrisi yang sama kepada bayi.

Dr Manny mengatakan sifat-sifat dari ASI akan berubah ketika dilakukan pengolahan yang menyebabkan nilai-nilai gizinya hilang.

“Jadi Anda harus berpikir lagi jika akan makan keju ASI dengan anggapan bisa meningkatkan kekebalan tubuh,” katanya. Menurutnya, makanan atau minuman yang mengandung cairan manusia perlu dipertimbangkan risikonya.

Sementara itu pakar ASI dalam negeri, dr Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC ketika dihubungi detikHealth mengaku sangat miris jika melihat ada orang yang mengolah ASI hanya untuk makanan seperti keju.

“Itu seperti merendahkan kemuliaan ASI, jika ASI berlebih sebaiknya didonorkan karena banyak anak-anak di dunia ini yang sangat membutuhkan ASI. Apalagi bahan untuk membuat keju dari susu hewan masih berlimpah, ini seperti melecehkan ASI,” kata dr Utami.

dr Utami mengaku tidak bisa membayangkan hati ibu-ibu yang tidak bisa menyusui jika melihat ASI dibuat keju. “Mereka yang melakukan itu jiwanya kurang sensitif. Keju dari ASI bagaikan kelakuan orangkaya yang bermain kelereng dengan berlian. Orang miskin yang melihatnya tentu akan teriris-iris hatinya,” katanya.

sumber : health.detik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s