Angklung Akan Diusulkan Masuk Daftar Warisan Budaya Dunia

Menyusul batik yang telah mendapat pengakuan, alat musik angklung akan diusulkan masuk daftar warisan budaya dunia tak benda. Usulan diajukan ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO tahun ini.

Menurut Direktur Direktorat Peninggalan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Junus Satrio Atmodjo, saat ini pendataan dan pemberkasan naskah usulan sudah dalam tahap penyelesaian. Pemberkasan, antara lain, berisi asal-usul, bentuk, pencipta, serta ragam angklung di sejumlah daerah di Indonesia.

”Banyak yang harus ditelusuri. Angklung ternyata tidak hanya ada di Jawa Barat, Bali pun mengenalnya,” kata Junus dalam peringatan Hari Ulang Tahun Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Madya) di Yogyakarta, Sabtu (9/1/2010).

Upaya pengusulan angklung sebagai warisan budaya dunia tak benda UNESCO telah dirintis sejak tahun 2009. Tahun ini, usulan tersebut diharapkan dapat diajukan pada rapat tahunan UNESCO—yang biasanya dilakukan di Abu Dhabi. ”Mudah-mudahan angklung sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia, setidaknya tahun 2011,” demikian Junus.

Dengan upaya maksimal, lanjutnya, dibutuhkan waktu sampai tiga tahun untuk merampungkan proses pengumpulan data, pemberkasan naskah, hingga penetapan. ”Batik dan keris butuh dua tahun. Tapi, wayang butuh sekitar tiga tahun karena ragamnya yang sangat banyak,” kata Junus lagi.

Tiga warisan

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata saat ini tengah dalam proses pengajuan tiga hasil seni dan budaya Indonesia sebagai warisan budaya dunia UNESCO. Selain angklung, juga ada gamelan dan tenun ikat.

Pemanfaatan tanduk binatang pun tengah digagas menjadi usulan warisan budaya. Namun, pengusulannya ke UNESCO dilakukan pada tahap berikutnya.

Dosen Arkeologi Universitas Gadjah Mada Daud Aris Tanudirdho menjelaskan, pengakuan UNESCO merupakan salah satu upaya perlindungan atas hasil seni dan budaya asli Indonesia. Perlindungan dan pelestarian pada hasil seni dan budaya dinilai semakin penting karena hasil seni dan budaya akan menjadi rebutan di masa depan karena nilai ekonominya. ”Orang ataupun kelompok akan semakin mencari identitas. Kebudayaan merupakan salah satu yang menandai identitas itu,” ujarnya.

Kondisi seperti itu, lanjut Daud, setidaknya tecermin dari maraknya jual-beli benda warisan budaya belakangan ini. Hal itu dengan sendirinya akan memicu timbulnya berbagai konflik kepentingan yang dapat mengancam kelestarian hasil budaya.

sumber : kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s