Wisata Rohani, Menyusuri Jejak Islam di Pulau Bali

0933238pBali juga merupakan daerah tujuan wisata rohani setiap datang Ramadhan. Umat Islam dari dalam dan luar negeri memanfaatkan liburannya di Pulau Dewata mengunjungi makam dan tempat-tempat bersejarah masuknya Islam ke daerah ini.

“Pulau Bali banyak memiliki tempat-tempat bersejarah, karena agama Islam masuk ke Bali pada zaman kerajaan lebih dari 500 tahun silam,” Kepala Bidang Bimas Islam dan Penyelenggara Haji Kanwil Departemen Agama Provinsi Bali Haji Musta’in SH di Denpasar, akhir pekan kemarin.

Ia mengatakan, tempat-tempat bersejarah atau makam tersebut hingga kini masih utuh dan terawat dengan baik di berbagai tempat di Bali.

Al Quran dan mimbar tua di Masjid Assyuhada dan nisan kuburan di lingkungan Kampung Bugis merupakan “saksi bisu” masuknya Islam ke Kelurahan Serangan, Denpasar pada abad ke 17.

Hal itu berawal dari pendaratan sebuah perahu dari Jawa ke Denpasar di masa kekuasaan Raja Tjokorda Pemecutan III. Raja Tjokorda bergelar Betara Sakti karena memiliki kesaktian yang luar biasa. Ketika itu, kerajaan Pemecutan tengah berseteru dengan tetangganya, Kerajaan Mengwi, yang akhirnya meletus peperangan.

Diplomasi mulut atau musyawarah tampaknya tidak mampu mencegah perang bersenjata, sehingga berlaku hukum rimba, yakni siapa yang kuat dialah pemenangnya.

Para pendatang dari Jawa yang terdampar karena perahu mereka rusak kemudian dimanfaatkan oleh raja Pemecutan sebagai prajurit yang membantu mengempur Kerajaan Mengwi.

“Prajurit” pendatang tersebut dipimpin oleh Raden Sastroningrat, seorang bagsawan kelahiran Madura (Jatim). Raja Pemecutan berjanji, jika Sastroningrat membantu mengalahkan Mengwi, ia akan dinikahkan dengan salah seorang putri Pemecutan. Akhirnya, pasukan gabungan Kerajaan Pemecutan dan para pengawal Raden Sastroningrat berhasil memenangkan pertempuaran atas Kerajaan Mengwi.

Raja Pemecutan III menepati janjinya. Sastroningrat dikawinkan dengan putri raja bernama Anak Agung Ayu Rai.

A A Ayu Rai wafat dan dikuburkan di tempat pemakaman “Setra Ganda Mayu” Badung yang lokasinya berdekatan dengan puri raja Pemecutan. Sampai sekarang makam tersebut dikenal dengan nama “pura keramat puri Pemecutan”.

Haji Musta’in menjelaskan, tempat makam tersebut selama bulan suci Ramadhan banyak diziarahi oleh umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia maupun mereka yang yang telah menjadi warga Bali.

sumber : kompas.com

2 thoughts on “Wisata Rohani, Menyusuri Jejak Islam di Pulau Bali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s